Kamis, 22 Maret 2012

KISAH ASAL USUL NAMA CADAS PANGERAN SUMEDANG!!

Kisah di awali dengan wafatnya Bupati Sumedang
yaitu Bupati SURYANEGARA.

Anaknya yang bernama RADEN JAMU saat itu masih berumur 20 tahun sehingga belum dapat diangkat menjadi Bupati karena syaratnya harus berumur 24 tahun. Akhirnya, setelah melalui mufakat di pilihlah DEMANG TANUBAYA sebgai pengganti yang baru. Namun bupati pengganti itu hanya dua tahun memerintah telah dipanggil menghadap yang kuasa.


Akhirnya, setelah dilakukan pemilihan lagi,terpilihlah DEMANG PATRAKUSUMAH yang dahulunya adalah Dalem Parakan Muncang kini di angkat menjadi Bupati tanubaya II. Bersamaan dengan itu, Keluaraga Bupati Suryanegara yaitu Nyai Suryanegara dan Raden Jamu menuju pesantren KYAI SEPUH di Bukit Tunggul.


Disinilah Raden Jamu di gembleng dua macam ilmu yaitu ilmu Al Quran dan Hadis, ditambah ilmu bela diri atau kejayaan.

Untuk melanggengkan kekuasaannya Bupati Tanubaya II menikahkan anaknya, Raden Ayu Candranegara dengan Raden Jamu.

Atas hasutan DEMANG DONGKOL, Bupati memerintahkan untuk menangkap Raden jamu hidup atau mati. Raden Jamu akhirnya meloloskan diri dari Sumedang menuju Limbangan. Dari Limbangan Raden Jamu menuju Cianjur, Di Cianjur Raden Jamu di angkat oleh Bupati cianjur menjadi Wedana di Cikalong. Melihat keadaan yang semrawut di Sumedang, Bupati Cianjur mengirim surat untuk Gubernur di Batavia.


Akhirnya, turunlah surat yang mencabut kedudukan Bupati Tanubya II digantikan oleh raden Jamu dengan gelar Adipati Suryanegar atau Pangeran Kusumadinata sebagai Adipati Sumedang yang ke-12. Di bawah pimpinan Pangeran Kusumahdinata,


Sumedang mencapai kemakmurannya. Namun, pada saat itu Pemerintah Belanda mengutus HERMAN WILLEM DAENDELS sebagai Gubernur Jendral di Hindia Belanda. Dendwlslah yang membangunjalan sepanjang 100 km dari Anyer sampai Panarukan. Pembuatn jalan ini dimulai dari Anyer terus ke Serang, keTangerang, ke Jakarta, Bogor, Bandung dan sampailah di Sumedang. Di Sumedang inilah terjadi Peristiwa yang mempertemukan Pangeran Kusumadinata dan Daendels, ketika pembuatan jalan sampai di daerah selepas Tanjungsari.


Disitu pekerja berhadapan dengan jalan yang menajak dan berbatu cadas sehingga disebut TANJAKAN CADAS.


Ketika sampai di tempat para pekerja, Bupati memerintahkan para pekerja untuk berhenti dahulu. Tak lama kemudian Daendels datang. Ketika bersalaman, Bupati mengulurkan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mencabut keris Ki Dukun.


Daendels sendiri sebenarnya terkejut melihat keberanian Bupati Sumedang itu, hatinya seperti tinggal separo melihat keris yang sudah diangkat , namun kemudian disarungkan kembali. Sejak kejadian itu jaln tersebut Disebut CADAS PANGERAN. Pada suatu ketika, Bupati Sumedang berhasil mengalahkan perampok diperbtasan Sumedang-Cirebon. hal ini terdengan sampai ke Batavia.dan ia dihadiahi pangkat KOLONEL. Sejak itu rakyatnya menyebutnyam sebagai PANGERAN KORNEL.


dari berbagai sumber!!

1 komentar:

  1. posting yang bagus, dapat menambah wawasan saya. kalo ada waktu mampir yuk ke blog saya
    http://hoshikanoshi.blog.stisitelkom.ac.id/
    ditunggu ya ^^

    BalasHapus

Artikel Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...